Saturday, October 17, 2009

Getting Up for Worship

Getting Up for Worship

Al-Sajdah (The Prostration) Sura 32: Verse 15-17

"Only they believe in Our revelations who, whenever they are reminded of them, fall down prostrating themselves in adoration, and extol their Lord's limitless glory and praise; and who are never arrogant; who drag themselves out of their beds at night to pray to their Lord in fear and hope; and who are charitable with what We provide for them. No one can imagine what blissful delights have been kept in store for them as a reward for what they used to do."

This is a pleasant image of believing souls which are so gentle and sensitive. They are sincere in the devotion they address to God alone. No arrogance or pride creeps into their hearts. They receive God's revelation with interest and acceptance, eager to understand and act on them. When these believers are reminded of God's revelations, they "fall down prostrating themselves in adoration." They are keenly influenced by what they are told, glorify God and feel His majesty. Hence, their first reaction is to fall down prostrating themselves. This is the best expression of their feelings, putting their foreheads on the ground in adoration. With this physical gesture, they "extol their Lord's limitless glory and praise." They are never arrogant. Their response is genuine, expressing their true feelings in God's glory.


The surah then describes their physical attitude and inner feelings in a vivid expression that brings the movement and the feeling before our eyes. They stand up for night prayer, which is the obligatory Isha prayer and the Witr prayer that follows it, and they add voluntary night prayer and supplication. This is described here, however, as dragging themselves out of beds. Thus we see the beds and their attraction, inviting people to take rest and sleep. Yet those believers do not respond, and make every effort to resist such attraction, because they have something else that preoccupies them. They want to stand before their Lord, in adoration, with feelings of fear and hope present in their minds. They dread disobeying God and long for His help. They fear God's anger and punishment and hope for His mercy and acceptance. With such sensitivity and devoted, earnest prayer, they do their duty towards their community, in obedience to God: "And who are charitable with what We provide for them."

This splendid, glorious image is accompanied by another one showing the marvellous and special reward which reflects the special care, honour and generosity God bestows on them. God Himself welcomes these people, and He takes it upon Himself to prepare the reward He has in store for them. Furthermore, it is He who will give them a warm reception and and honourable position which will delight them. All this though is known to God alone, no one else has any idea of it. It remains with Him until it is shown to those who will be given it when they meet Him. What a splendid meeting with the Lord of the universe!

Compiled From:
"In the Shade of the Quran" - Sayyid Qutb, Vol. 13, pp. 467, 468

Wednesday, October 7, 2009

Ingin bangkit semula!


Semalam, sepetang bersama teman baruku Thariq Ziyad, aku bersiar2 melihat keindahan alam...lama sekali aku tak meneliti tona hijau dedaun yang menghiasi pohon2 rendang, juga kilatan keemasan di celah2 sayap burung2 kecil yang mematuk riang di tepi jalan...juga kepulan awan putih yang kelihatan seperti gula2 kapas...mmm...imaginasiku berhenti pada makanan?Sesungguhnya aku sedang berpuasa!

Meski tafakkurku sedikit terganggu, masih aku bersyukur kerana alam ini tidak henti2 berbicara padaku...mengingatkan aku pada hakikat diri...dan kembali menyoal diri, untuk apa aku wujud di sini?Serta-merta jawapannya mengingatkan aku pada satu hakikat yang takkan pernah berubah, meski aku lah yang kerap-kali di atas di bawah, dilambung dan dihayun ombak mehnah yang acapkalinya lebih deras daripada tsunami yang melanda kepulauan Samoa..

Ramadhan tidak jauh meninggalkanku, namun aku sudah merasa sesak dengan ujian dunia, bagaikan tak putus2 datang melanda...

'Adakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga padahal belum datang kepadamu (cubaan) seperti (yang dialami) org2 terdahulu daripada kami. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan digoncang (dgn berbagai cubaan), sehingga Rasul dan org2 beriman bersamanya berkata: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat' (2:214)

Inilah satu2nya azimat yang membuatkan aku kembali berpijak di bumi nyata...sesungguhnya ujian dan dugaan itu sunnah perjuangan...dan semuanya ini demi meraih keuntungan dalam perdagangan dengan Allah S.W.T dengan keuntungan yang sebenar2nya....

Teringat pada tokoh yang hidupnya begitu membekas dalam hatiku, Ustaz Farag Naggar...alangkah hebatnya peribadi seorang yang hatinya telah tekad, bulat demi Tuhannya dan aqidahnya...hati yang telah disucikan daripada jahiliyah melata, serta lemahnya semangat dan pengecutnya jiwa...hati yang tidak gentar pada seruan melainkan seruan Ilahi...kepulangannya ke rahmatullah bulan lalu, benar2 dirasai...seorang rijal yang sukar diganti dan hampir2 tak ditemukan dalam ummat ini!

Ustaz Farrag Najjar menceritakan tentang kelebihan ibunya dengan berkata,

“Aku berdiri di depan seorang wanita seolah-oleh aku berdiri di hadapan salah seorang pemimpin yang bernas. Aku mendengar, menghormati, membenarkan dan aku tidak mempersoalkannya. Pada ibuku terdapat himpunan nasihat-nasihat dakwah dalam bentuk kata-kata hikmat dan pengalaman-pengalaman lalu. Wanita adalah satu kekuatan seperti taufan yang melanda sekiranya dia berada di belakang anak-anaknya sambil mendorong mereka maju ke hadapan, seperti api yang dinyalakan di tengah-tengah kesejukan yang mencengkam”.


Satu kekuatan seperti taufan yang melanda... Mendorong anak2 dan sesiapa sahaja di bawah jagaannya untuk maju ke hadapan... Seperti api yang dinyalakan di tengah2 kesejukan yang mencengkam...

Satu kekuatan seperti dialirkan ke tubuhku, bilamana aku membaca petikan ini...sesungguhnya aku, seorang wanita...boleh mempunyai kekuatan seperti ini...maka aku harus bangkit untuk meraihnya!

Pagi ini, aku menyelak sekilas 'Rijalun Haular Rasul', terasa rindu untuk bertemujanji dengan para pendokong dan Hawariyun Rasulullah...mataku terpaku pada Salim Maula Abu Huzaifah...asalnya seorang hamba, kemudian dibebaskan...di bawah naungan Islam, Salim muncul sebaris dengan para sahabat kalangan bangsawan, sedikit pun tidak gentar dia menegur Khalid Al-Walid tatkala panglima perang, juga pemimpin angkatan tenteranya pada masa itu tersilap langkah. Tidak tersisa dalam dirinya rasa kehinaan atau rendah diri, kerana Islam mengangkat martabat seseorang itu jauh ke hadapan...

Tidak hairanlah, Salim menjadi penyejuk hati Rasulullah S.A.W. tatkala baginda bertanya ' Adakah sesiapa yang menyanggah dan menegur Khalid di atas kesilapannya?'Tidak hairan juga, namanya disebut sebaris dengan Abdullah bin Mas'ud bilamana Rasulullah S.A.W. ditanya, pada siapakah harus diambil pelajaran tentang Kitabullah. Kecintaan Salim pada Deen ini benar2 menusuk hatiku...Peristiwa Perang Yamamah bagaikan terbentang di hadapan mataku pagi ini, keheningan Subuhku membawaku jauh ke tengah medan Yamamah...seolah kusaksikan hayunan pedang dan pahanan tombak, serta kebingitan besi2 waja yang saling bertembungan...tidak dapat kukenali, musuh atau lawan...

Namun, jelas di mataku...panji2 Islam diraih pantas oleh Salim, setelah Zaid bin Khattab gugur syahid...Saling berteriakan Salim dan Abu Huzaifah, masing2 padu hati dan cinta kepada mati syahid dan syurganya....satu pemandangan yang cukup meruntun jiwa, membuatkan air suam mengalir perlahan dari kelopak mataku...

Tangan kanannya ditebas musuh, lalu tangan kirinya segera meraih panji2 Islam...dan dibacakan dari Kitabullah, kata2 azimat, penaik semangat....ayat yang takkan kulupakan sampai bila2...

'Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak (menjadi) lemah kerana bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai org2 yang sabar' (3:146)

Dan akhirnya, gugurlah Salim maula Abu Huzaifah, bersebelahan tuannya dahulu, saudara seislamnya kini, Abu Huzaifah...dan benarlah mereka pada janji mereka....

'Wallahu yuhibbu sobirin'
Dan Allah mencintai org2 yg sabar...

Semoga Allah merahmati kalian, pejuang2 Islam, penyambung risalah suci...moga aku juga dapat menjadi seperti kalian...hari ini, ingin aku mulakan dengan lebih baik...setelah aku bertemu rijal2 ini...aku ingin bangkit...moga kebangkitan ini dapat kuhiasi dengan kilauan istiqamah...

Tuesday, October 6, 2009

InshaAllah!!



InshaAllah (by Maher Zain)

Everytime you feel like you cannot go on...
You feel so lost and that you're so alone...
All you see is night..and darkness all around
You feel so nervous you can't see which way to go...

Don't despair and never loose hope...
Coz Allah is always by yourside...

inshaAllah...inshaAllah...inshaAllah
You'll find your way.. (2x)

Every time you commit one more mistake
You feel you can't repent...and that it's way too late
You're so confuse....wrong decisions you have made
Haunt your mind and you heart is full of shame

Don't despair and never loose hope...
Coz Allah is always by yourside...

inshaAllah...inshaAllah...inshaAllah
You'll find your way.. (2x)

Turn to Allah...He's never far away
Put your trust to Him...raise your hands in pray
Huu Ya Allah, guide my steps don't let me go astray...
You're the only one to show me the way...
Show me the way...show me the way...show me the way...

inshaAllah...inshaAllah...inshaAllah
You'll find your way.. (4x)

Friday, September 11, 2009

Rijal itu..

Sekilas aku menoleh..
Menatap tekun pada qurratu aa'yunnya, bagaikan tenggelam dalam keasyikan yang amat
Hatiku sedikit tersentuh, tersambar sedikit kilatan hidayah
Lalu aku juga mengeluarkan perlahan mushafku..
Dan membacanya, meski hatiku masih terpegun

Sekilas aku menoleh..
Masih tekun redup matanya pada wahyu Ilahi
Masih dibuai keasyikan yang amat dalam tatapan warkah cinta dari PenciptaNya
Sedang manusia lain bingit dan asyik dalam kealpaan
Aku sendiri tenggelam dalam kesibukan dan ungkapan2 kata yang tiada noktah
Rona merah, andainya ada..pasti telah menghiasi pipiku kerana perasaan halus menyelinap di hati...alangkah jauh berbeza aku dan rijal itu...

Sekilas aku menoleh..
Langkahnya pantas, namun cermat dan teliti
Teringat bagaimana sahabat menceritakan tatkala bergandingan dengan Rasulullah
Bagaikan mengejar, sedangkan baginda melangkah tenang
Masa dijaga bagaikan menatang minyak yang penuh, sedang aku...
Masih lagi melangkah bersahaja, seperti tidak berdetik waktu di pergelanganku

Sekilas aku menoleh..
Kata-kata tidak ditutur kecuali perlu, dan jika ditutur, bagaikan ditapis dengan cermat sekali
Begitu gah peribadi, begitu tinggi harga diri
Hatiku terdetik...alangkah hebatnya rijal ini..
Mataku masih tegar, namun hatiku telah bergenang..bukan dek kesedihan, tetapi haru yang amat
Bagaikan tidak percaya rijal begini wujud di hadapanku

Sekilas aku menoleh..
Sepertiku dalam kembara pena Abbas As-Siisi,
Rijal2nya yang tercatat dalam Thoriq ila Qulub...seolah2nya muncul salah seorang di hadapanku
Alangkah hebatnya acuan yang melahirkan rijal begini!
Moga dakwah ini bersinar cemerlang dengan rijal2 seperti ini....


*Tulisan ini hasil inspirasi pertemuan ringkas dengan penceramah RSP New Zealand (Prof. Madya Dr. Zainurrashid Zainuddin)..semoga Allah memperkasakan dakwah ini dengan rijal2 sepertimu*

Wednesday, September 9, 2009

Monolog hati di akhir Ramadhan

Ramadhan berlalu begitu pantas....
Sudah tidak berapa lama sahaja lagi....akan meninggalkanku..
Aku ingin masa ini dibekukan, agar aku dapat menangis lebih banyak lagi, agar aku dapat merasakan dakapan rahmat serta kasih sayangNya yang dihadiahkan buat hambaNya di bulan ini...

Ramadhan, bulan tarbiyah....sememangnya satu kebenaran yang tak perlu diragui lagi...di bulan ini, aku mengerti erti kehidupan dan ujian...aku terkesima sebentar apabila ujian yang biasa kutonton di kaca television, menjadi realiti dalam hidupku...satu pengakuan yang menyentak hatiku, meruntun sanubari...membuatkan aku lumpuh seketika, terasa kegelapan yang amat sangat...dan bila aku berjaya meraih semula cahaya, hatiku pula yang merasa kesakitan serta kepedihan yang amat sangat...

Aku simpati pada hati ini....ujian yang tertimpa di atas hati ini, adalah yang paling berat pernah kurasai...namun, aku bertekad...setelah aku bangkit dari kegelapan...
Hati ini...aku ingin serahkannya kepada Cinta ini..
Tidak lagi aku peduli andainya ia dicalari, atau disakiti...
Tidak juga ingin kumemiliki atau menguasai dengan sifat ketamakan atau keegoan

Jadi, hatiku....usahlah bergolak hebat atau merintih kepedihan dengan dugaan yang kecil...masalah ummat begitu hebat perlu kau tangisi...apalah yang ingin kau keluhkan dengan dugaan sekecil ini?

Hidup ini hanya sementara, kau tak perlukan seluruh hati atau cinta dari manusia yang lain, cukuplah sekadar secebis...yang kau perlukan adalah cinta Ilahi..yang hakiki, yang dapat memberikan kebahagiaan yang tak terhingga...

Bukankah itu yang kau cari...setelah kau bertekad menyerahkan hatimu kepada Cinta ini?

Biar Hati Menolak Cinta Insani..
Biar Badan Lesu Ditohmah Kata Keji..
Jangan Kau Menangis Wahai Mata Hati..
Menangislah Andai Cintamu Ditolak Ilahi..
Hidupkan Hatimu Dengan Redha Ilahi…

Cinta sejati tidak memusnahkan atau merosakkan diri kekasih yang dicintai. Malah ia menjaga agar kekasih tetap suci dan selamat sebagaimana sucinya cinta itu sendiri...Ya Allah, aku ingin mencintaiMu, serta mencintai JalanMu ini....

Andainya Engkau ingin menghadiahkanku sesuatu, maka hadiahkanlah pembimbing yang juga mencintaiMu serta mencintai JalanMu ini...andai Engkau mendugaku dengan yang ini, maka akan aku penuhi dadaku dengan kesabaran....asalkan Engkau redha kepadaKu, aku tidak akan peduli pada yang selainnya...